Senin, 06 November 2017

PEMANFAATAN SIMBIOSIS MUTUALISME DALAM USAHA PERTANIAN SISTEM MINAPADI

PEMANFAATAN SIMBIOSIS MUTUALISME DALAM USAHA PERTANIAN SISTEM MINAPADI





Oleh:
MUHAMMAD SUPRDI
(C1061131006)





PRGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016






Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan baik pada tingkat nasional, regional, sampai dengantingkat rumah tangga. Dari sekian banyak jenis bahan pangan, beras masih menjadi primadona bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Produksi padi di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2011 mencapai 843 ribu ton atau mengalami pertumbunan sebesar 4,5 persen selama periode 2007 s.d. 2011 dengan produktivitas mencapai 60,51 ku/ha untuk padi sawah dan 44,24 ku/ha untuk padi ladang (Badan Pusat Statistik DIY, 2012). Saat ini diperlukan upaya untuk mengembangkan teknologi budidaya padi yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan petani dan ketahanan pangan. Berbagai konsep perbaikan dalam usahatani padi telah dilakukan agar produktivitas padi tetap tinggi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Upaya peningkatan pendapatan petani yang telah dilakukan diantaranya adalah: Program Prima Tani, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), minapadi dan pengembangannya.
Budidaya minapadi adalah budidaya terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah, yaitu selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur hara, sehingga dapat juga mengurangi biaya penyiangan tanaman liar.
Minapadi telah lama dikembangkan di Indonesia, selain menyediakan pangan sumber karbohidrat teknologi ini juga menyediakan protein sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makan penduduk di pedesaan. Dengan teknologi minapadi yang tepat, minapadi dapat memberikan pendapatan yang tinggi. Keuntungan yang di dapat dari usahatani minapadi berupa produksi padi dan ikan.
            Pertanian dengan sistem minapadi ialah salah satu penerapan simbiosis mutualisme dalam ilmu biologi, karena terjadi interaksi saling menguntungkan antara padi dan ikan.


B.       Tujuan

          Tujuan dari pembuatan paper ini antara lain:
1.    Untuk mengetahui pengertian minapadi. 
2.    Untuk mengetahui budidaya minapadi.
3.    Untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan budidaya minapadi.
4.    Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kulia BIOLOGI 



BAB II. PEMBAHASAN

A.     Pengertian Minapadi

Minapadi adalah cara yang digunakan oleh petani dengan menggabungkan teknik budidaya padi dan pemeliharaan ikan, yang dilakukan secara bersamaan di lahan sawah. Biasanya sistem minapadi dilakukan di sistem pengairan sawah teknik dan setengah teknis. Sebab keberadaan air di sawah dalam sistem minapadi sangan dibutuhkan. Minapadi merupakan salah satu strategi yang baru dilakukan petani, dari sistem monokultur ke sistem diversivikasi pertanian. Gerakan usaha budidaya minapdi merupakan usaha terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah, dalam rangka meningkatkan pemdapatan untuk kesejahteraan petani dan terciptanya ketahanan pangan (Anonim, 2012).
Intensifikasi mina padi adalah bagian dari sistem budidaya ikan di sawah. Budidaya ikan di sawah merupakan suatu kegiatan pertanian yang memadukan budidaya ikan dengan budidaya padi sawah. Menurut Hanafi (1993) dalam Diodenha (2001), sistem usahatani mina padi bukanlah hal yang baru karena telah diterapkan pada tahun 1950-1960-an namun keuntungan yang didapat masih tergolong rendah. Hal tersebut disebabkan karena teknik budidayanya masih sederhana (tradisional) dan beragam. Usaha pemeliharaan ikan di sawah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan.
Untuk menentukan jenis ikan yang akan dipelihara perlu diperhatikan faktor yang menyangkut kualitas ikan dan kesesuaian dengan lingkungannya. Faktor ikan menyangkut kualitas ikan adn kesesuaian dengan lingkungannya. Faktor sawah meliputi sistem irigasi yang baik dan tingkat kesuburan yang berhubungan dengan ketersediaan makanan alami bagi ikan (Diodenha, 2011).

B.       Keuntungan Sistem Mina Padi

Jenis ikan yang umum dibudidayakan dalam sistem mina padi adalah ikan mas (Cyprinus carpio), tawes (Puntius javanicus), nilem (Osteohilus hasselti), merah mata (Puntius orphiodes), nila (Tilapia nilatica), kancra (Labeobarbus trombroides), dan karper (Ctenophary-ngodon idellus). Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan  jenis  ikan adalah volume air, ketersediaan benih, pakan, pasar, dan  kebiasaan petani. Pada minapadi, ketinggian air genangan  tanaman padi terbatas antara 10-15 cm, dan pada bagian caren ketinggian airnya 20-30 cm (Suriapermana et al. 1989 dalam Sasa dan Syahroni, 2006).
Salah satu upaya memperoleh pakan ikan yang murah adalah memanfaatkan azolla dalam sistem minapadi. Menurut Lales et al. (1989) dalam Sasa dan Syahroni, (2006), azolla dapat men-substitusi pakan  ikan sekitar 30%. Oleh karena  itu, minapadi-azolla dalam suatu hamparan dapat meningkatkan kesuburan anah, mengendalikan gulma dan hama padi, serta meningkatkan hasil padi (Fagi et al. 1992 dalam Sasa dan Syahroni, 2006). Selain itu, penggunaan azolla sebagai pakan ikan di sawah berpeluang meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
Azolla  merupakan  tumbuhan  air yang  mampu  mengikat  N  bebas  dari  udara melahi simbiosis dengan Anabaena azollae.  Azolla  dapat  digunakan sebagai pupuk  hijau  organik dan  membantu dalam memperbaiki sifat fisik,  kimia  dan biologi  tanah  sehingga bermanfaat bagi pertumbuhan  tanaman,  terutama padi. Selain itu azolla mampu menekan pertumbuhan  gulma  air, menekan perkembang biakan nyamuk, terutama pada air  yang tergenang  dan dapat juga  digunakan sebagai pakan ternak unggas  dan  ikan karena kandungan  protein  dan  mineral nya tinggi (Arifin, 2003 dalam Kaimuddin, et al., 2008).
Usaha mina padi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Menurut Agustian (1997) dalam Hafsanita (2002), sistem ini mempunyai keuntungan:
1.        Meningkatkan pendapatan petani, karena petani mendapat tambahan dari hasil ikan.
2.        Meningkatkan produksi tanaman padi, karena sistem ini dapat:
a.              meningkatkan kesuburan tanah, karena kotoran ikan berfungsi sebagai pupuk,
b.             pertumbuhan gulma dapat ditekan, karena ikan memakan gulma-gulma tersebut,
c.              perkembangan populasi hama dan penyakit tanaman padi dapat ditekan, karena ikan akan memakan binatang-binatang kecil hama tersebut, dan
d.             ada perilaku ikan yang mencari makan dengan membolak-balik tanah, sehingga dapat memeperbaiki struktur tanah.
3.      Meningkatkan efisiensi dan produktifitas lahan
4.       Tanaman padi dapat lebih terkontrol, karena petani lebih sering ke sawah.
5.      Memenuhi kebutuhan protein hewani
6.      Mengurangi biaya pengolahan
Biaya untuk persiapan lahan ikan sudah menjadi satu dengan biaya persiapan lahan untuk padi, pakan ikan bisa didapat dari pemanfaatan azolla pada tanaman padi.

C.       Langkah-Langkah dalam Usaha Minapadi

1.      Budidaya Ikan Sebagai Penyelang Tanaman Padi

            Pemeliharaan ikan sebagai penyelang dilakukan setelah tanah sawah dikerjakan sambil menunggu penanaman padi. Lamanya pemeliharaan biasanya 20 – 30 hari, sampai pada saat benih padi siap untuk ditanam. Pada sistem ini biasanya hanya dilakukan untuk pendederan benih ikan. Tujuannya adalah setelah umur 20 – 30 hari, hasil dederan berubah menjdai anak ikan yang siap ditebarkan di kolam.
            Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), budidaya minapadi dengan penyelang dapat dilakukan sebagai berikut:
a.         Persiapan lahan
-          Membabat jerami sampai pangkalnya dan dibenamkan
-          Perbaikan pematang untuk mencegah kebocoran air.
-          Saluran pemasukan dan pengeluaran terletak pada sisi yang berseberangan dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau saringan.
-          Pengolahan dan pembalikan tanah menggunkan luku atau retovator (traktor).
-          Pembuatan careng keliling dengan lebar 40 – 100 cm dan careng penampunga (kobakan panen) dengan ukuran 1 x 2 m dan kedalaman 50 – 75 cm.

b.       Pemupukan 
-          Pemupukan dengan SP-36 dan urea tahap I sebanyak 6 – 7 gram/m2 dilakukan setelah persiapan lahan atau 4 – 5 hari sebelum penebaran benih.
-          Pupuk organik diberiakn setelah petakan digenangi air setinggi 15 cm dengan frekuensi 1 - 2 pekan sekali sebanyak 30 – 100 gram/m2.

c.         Pemeliharaan
-          Benih ikan yang ditebar sebanyak 30.000 ekor/ha/MT berukuran 1 – 3 cm
-          Pakan tambahan untuk ikan berupa dedak halus sebanyak 4 % dari bobot total ikan, dengan frekuensi 3 kali sehari.
-          Ketinggian air di dalam petakan selama masa pemeliharaan adalah 30 – 40 cm
-          Balikkan tumpukan jerami 3 (tiga) hari sekali untuk mempercepat proses pembusukan dan pertumbuhan pakan alami.
-          Suplai air terus – menerus dengan kecepatan 2 – 4 liter/detik untuk petakan seluas 500 m2.

d.      Pemanenan.
-          Panen dilakukan 2 – 3 hari sebelum tanam padi.
-          Pengeringan petakan secara total dan dipasang saringan pada pipa pengeluaran untuk mencegah lolosnya benih.
-          Setelah masa pemeliharaan selama 30 hari dihasilkan benih ikan berukuran 3 – 5 cm sebanyak 21.000 ekor setara dengan 105 kg/ha.
  

2.      Budidaya Ikan Bersama Padi

Budidaya ikan bersama padi merupakan pemeliharaan ikan di sawah yang dilakukan bersama dengan tanaman padi. Lama pemeliharaan adalah sejak benih padi ditanam sampai penyiangan I, penyiangan II atau sampai tanaman padi mulai berbunga, kira-kira umur tanaman padi 50 hari. Sistem budidaya minapasi ini sering disebut sebagai sistem tumpangsari.
Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), budidaya minapadi dengan sistem tumpangsari dapat dilakukan sebagai berikut:

a.              Persiapan Lahan.
-          Sawah dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan penanaman padi dan pemeliharaan ikan
-          Tanah diolah atau dibajak samapai lumpur mencapai 15 – 30 cm, de3ngan perbandingan lumpur dan air, 1:1
-          Pembuatan parit/caren untk udang galah berukuran lebar 1 m dengan kedalaman 60 – 75 cm
-           Penanaman padi

b.             Pemupukan Padi
Pada pemupukan dasar, pupuk ditaburkan secara merata pada keadaan sawah masih melumpur. Urea dan SP-36 tidak dianjurkan untuk dicampurkan pada saat penaburan. Pada pemupukan susulan, air dalam petakan diusahakan dalam keadaan macak-macak sebelum penebaran (ikan berada pada kemalir auat diungsikan terlebih dahulu). Pupuk ditaburkan diantara barisn tanaman atau ditebar secara merata. Benamkan pupuk dengan landak sambil menyiang atau diinjak-injak khusus agar bisa terbenam pada kedalaman lebih dari 3 cm.

c.              Penebaran ikan
Padat penebaran dan ukuran benih ikan disesuaikan dengan tujuan penanaman penanman, penebaran, pertama benih berukuran 1 – 3 cm (fingerking) dengan padat penebaran 3 – 5 cm ekor/m2 dilakukan 3 – 5 cm setelah tanam padi. Jika benih ikan yang ditebar berukurang kurang dari 5 cm, gunakan panglojo (ikan pembimbing), yang ukurannya lebih besar (50 -75 gram) sebanyak 200-150 ekor/ha. Karena ikan ini dapat membolak balikan lumpur sehingga dapat membantu ikan-ikan kecil mencari makan. Ikan dapat diganti dengan dengan udang galah berukuran 5 – 8 gram/ekorsebanyak 2 ekor/m2.  Jadwal tanam ikan pada budidaya minapadi sesuai dengan ukuran ikan dan lama pemeliharaan.

d.        Pemeliharaan
-          Apabila pertumbuhan padi tidak normal (anakan kurang) turunkan permukaan air sampai 5 cm selama 2 – 4 hari guna memberi kesempatan padi untuk bertunas.
-          Ikan perlu diberi pakan tambahan berupa dedak dengan takaran 4 – 5 % dari berat badan ikan. Untuk pakan udang galah diberikan pekan berupa pellet (protein 30 %) sebnayak 1 % dari berat badan udang/hari  dengan frekuensi 3 kali sehari.
-          Selama masa pemeliharaan kedalaman air di pelataran 10 – 15 cm dan parit 30 – 40 cm.
-          Pemasukan dan pengeluaran air dilakukan berdasarkan grafitasi.
-          Lemanya pemeliharaan ikan tergantung pada ukuran benih dan besarnya iakn yang hendak dipanen. Lama pemeliharaan benih dari ukuran kebul sampai ukuran belo 15 – 20 hari, dari belo sampai ngaramo 20 – 30 hari, dan dari ngaramo menjadi ikan konsumsi 40 – 55 hari.

e.              Pemanenan ikan
-          Pemanenan ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu udara rendah.
-          Pengeringan petakan pada waktu panen harus dilakukan perlahan – lahan agar ikan dapat mencapai parit.
-          Keluarkan air pada bagian kemalir agar ikan berkumpul pada kemalir tersebut samai ketinggian air mencapai 3 – 5 cm.
-          Air yang terkumpul ditangkap dan ditampung dalam hapa yang ditempatkan pada air mengalir. Setelah petakan kering, air dapat dialiran kembali agar ikan yang masih tersisa dalam petakan dapat terselamatkan
-          Setelah masa pemeliharaan selama 90 hari dihasilkan udang ukuran konsumsi (25 – 35 g/ekor) sebanyak 15.000 – 16.000 ekor setara dengan 450 kg.
      

BAB III. PENUTUP


A.   Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkkan bahwa usaha minapadi merupakan sistem pertanian yang menguntungkan petani, selain itu usaha minapadi lebih evektif dan efisien dalam dalam meningkatkan penghasilan karena petani bisa mendapatkan dua hasil yaitu padi an ikan.
            Usaha pertanian sistem minapadi juga membuktikan adanya penerapan ilmu biologi dibidang pertanian yaitu  teori simbiosis mutualisme karena adanya interaksi dua makhluk hidup yang saling menguntungkan yaitu padi dan ikan. Usaha minapadi juga mengurangi biaya petani dalam mengolah lahan misalnya biaya pupuk, pestisida dan penyiangan gulma.

B.     Saran

Dari pembahasan dan kesimpulan diatas saya  menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1.      Usaha mina padi perlu lebih dikebangkan mulai dari penelitian di pergurunan tinggi, diajukan kepada dinas-dinas terkait dan di promosiakan kepada petani-petani di  masyarakat.
2.      Pertanian sistem mina padi merupakan sesuatu yang baru bangi masyarakat, oleh karena itu perlu adanya penyuluhan dan pelatihan agar masyarakat dapat menerapkan sistem pertanian tersebut.
3.      Pemerintah sebaiknya menyiapkan srana dan prasarana bagi masyarakat yang ingin mencoba usaha pertanian sistem mina padi.

 



DAFTAR PUSTAKA



Damayanti, Yusma. 2011. Potensi Dan Peluang Pengembangan Sistem Minapadi Sebagai Upaya Penanganan Dampak Perubahan Iklim Di Provinsi Jambi. Seminar Nasional Sains Dan Teknologi-IV
Diodenha, Astar. 2001. Persepsi Lingkungan Petani Desa Purwasari, Kec. Dramaga, Kab. Bogor Terhadap Penerapan Teknologi Intensifikasi Mina Padi (INMIDI). Skripsi. Institut Pertanian Bogor
Hafsanita, Shanti Dewi. 2002. Analisis Ekonomi Pola Pemanfaatan Lahan Sawah Untuk Perikanan Di Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian
Kaimuddin., Bachrul Ibrahim., dan Lina Tangko. 2008. Budidaya padi sawah irigasi dengan aplikasi azolla dan ikan nila. Jurnal agrivigor 7(3): 242-253
Sasa, Johari J., dan O. Syahromi. 2006. Sistem Minapadi dalam Perspektif Produktivitas Lahan, Pendapatan, dan Lingkungan. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan  Vol. 25 No. 2
Tiku, Gilda vanessa. 2008. Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Sistem Mina Padi dan Sistem Non Mina Padi (Kasus Desa Tapos I Dan Desa Tapos Ii, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Institut Pertanian Bogor



Tidak ada komentar:

Posting Komentar