PEMANFAATAN SIMBIOSIS MUTUALISME DALAM USAHA PERTANIAN SISTEM
MINAPADI
Oleh:
MUHAMMAD SUPRDI
MUHAMMAD SUPRDI
(C1061131006)
PRGRAM
STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
Sektor
pertanian memiliki peran strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan baik pada
tingkat nasional, regional, sampai dengantingkat rumah tangga. Dari sekian
banyak jenis bahan pangan, beras masih menjadi primadona bahan pangan pokok
bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Produksi padi di Daerah Istimewa
Yogyakarta tahun 2011 mencapai 843 ribu ton atau mengalami pertumbunan sebesar
4,5 persen selama periode 2007 s.d. 2011 dengan produktivitas mencapai 60,51
ku/ha untuk padi sawah dan 44,24 ku/ha untuk padi ladang (Badan Pusat Statistik
DIY, 2012). Saat ini diperlukan upaya untuk mengembangkan teknologi budidaya padi
yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan petani dan
ketahanan pangan. Berbagai konsep perbaikan dalam usahatani padi telah
dilakukan agar produktivitas padi tetap tinggi, ramah lingkungan, dan
berkelanjutan. Upaya peningkatan pendapatan petani yang telah dilakukan
diantaranya adalah: Program Prima Tani, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT),
minapadi dan pengembangannya.
Budidaya minapadi
adalah budidaya terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah,
yaitu selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan. Lahan
sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur
hara, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk. Ikan dapat juga membatasi
tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan
unsur hara, sehingga dapat juga mengurangi biaya penyiangan tanaman liar.
Minapadi telah lama dikembangkan di
Indonesia, selain menyediakan pangan sumber karbohidrat teknologi ini juga
menyediakan protein sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makan penduduk
di pedesaan. Dengan teknologi minapadi yang tepat, minapadi dapat memberikan
pendapatan yang tinggi. Keuntungan yang di dapat dari usahatani minapadi berupa
produksi padi dan ikan.
Pertanian dengan sistem
minapadi ialah salah satu penerapan simbiosis mutualisme dalam ilmu biologi,
karena terjadi interaksi saling menguntungkan antara padi dan ikan.
B. Tujuan
Tujuan
dari pembuatan paper ini antara lain:
1.
Untuk
mengetahui pengertian minapadi.
2.
Untuk
mengetahui budidaya minapadi.
3.
Untuk
mengetahui keuntungan dan kelemahan budidaya minapadi.
4.
Untuk
memenuhi tugas terstruktur mata kulia BIOLOGI
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Minapadi
Minapadi adalah cara yang digunakan oleh
petani dengan menggabungkan teknik budidaya padi dan pemeliharaan ikan, yang
dilakukan secara bersamaan di lahan sawah. Biasanya sistem minapadi dilakukan
di sistem pengairan sawah teknik dan setengah teknis. Sebab keberadaan air di
sawah dalam sistem minapadi sangan dibutuhkan. Minapadi merupakan salah satu
strategi yang baru dilakukan petani, dari sistem monokultur ke sistem
diversivikasi pertanian. Gerakan usaha budidaya minapdi merupakan usaha terpadu
yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah, dalam rangka meningkatkan
pemdapatan untuk kesejahteraan petani dan terciptanya ketahanan pangan (Anonim,
2012).
Intensifikasi
mina padi adalah bagian dari sistem budidaya ikan di sawah. Budidaya ikan di
sawah merupakan suatu kegiatan pertanian yang memadukan budidaya ikan dengan
budidaya padi sawah. Menurut Hanafi (1993) dalam Diodenha (2001),
sistem usahatani mina padi bukanlah hal yang baru karena telah diterapkan pada
tahun 1950-1960-an namun keuntungan yang didapat masih tergolong rendah. Hal
tersebut disebabkan karena teknik budidayanya masih sederhana (tradisional) dan
beragam. Usaha pemeliharaan ikan di sawah merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan lahan.
Untuk menentukan
jenis ikan yang akan dipelihara perlu diperhatikan faktor yang menyangkut
kualitas ikan dan kesesuaian dengan lingkungannya. Faktor ikan menyangkut
kualitas ikan adn kesesuaian dengan lingkungannya. Faktor sawah meliputi sistem
irigasi yang baik dan tingkat kesuburan yang berhubungan dengan ketersediaan
makanan alami bagi ikan (Diodenha, 2011).
B. Keuntungan Sistem Mina Padi
Jenis ikan yang
umum dibudidayakan dalam sistem mina padi adalah ikan mas (Cyprinus carpio),
tawes (Puntius javanicus), nilem (Osteohilus hasselti), merah mata (Puntius
orphiodes), nila (Tilapia nilatica), kancra (Labeobarbus trombroides), dan
karper (Ctenophary-ngodon idellus). Faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan jenis ikan adalah volume air, ketersediaan
benih, pakan, pasar, dan kebiasaan petani. Pada minapadi, ketinggian
air genangan tanaman padi terbatas antara 10-15 cm, dan pada bagian
caren ketinggian airnya 20-30 cm (Suriapermana et al. 1989 dalam Sasa
dan Syahroni, 2006).
Salah satu upaya
memperoleh pakan ikan yang murah adalah memanfaatkan azolla dalam sistem
minapadi. Menurut Lales et al. (1989) dalam Sasa dan Syahroni,
(2006), azolla dapat men-substitusi pakan ikan sekitar 30%. Oleh
karena itu, minapadi-azolla dalam suatu hamparan dapat meningkatkan
kesuburan anah, mengendalikan gulma dan hama padi, serta meningkatkan hasil
padi (Fagi et al. 1992 dalam Sasa dan Syahroni, 2006). Selain itu,
penggunaan azolla sebagai pakan ikan di sawah berpeluang meningkatkan
produktivitas dan pendapatan.
Azolla merupakan tumbuhan air
yang mampu mengikat N bebas dari udara
melahi simbiosis dengan Anabaena
azollae. Azolla dapat digunakan sebagai
pupuk hijau organik dan membantu dalam
memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah sehingga bermanfaat bagi
pertumbuhan tanaman, terutama padi. Selain itu azolla
mampu menekan pertumbuhan gulma air, menekan perkembang
biakan nyamuk, terutama pada air yang tergenang dan dapat
juga digunakan sebagai pakan ternak
unggas dan ikan
karena kandungan protein dan mineral nya
tinggi (Arifin, 2003 dalam Kaimuddin, et al., 2008).
Usaha mina padi merupakan salah satu
cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Menurut Agustian
(1997) dalam Hafsanita (2002), sistem ini mempunyai keuntungan:
1.
Meningkatkan
pendapatan petani, karena petani mendapat tambahan dari hasil ikan.
2.
Meningkatkan
produksi tanaman padi, karena sistem ini dapat:
a.
meningkatkan
kesuburan tanah, karena kotoran ikan berfungsi sebagai pupuk,
b.
pertumbuhan
gulma dapat ditekan, karena ikan memakan gulma-gulma tersebut,
c.
perkembangan
populasi hama dan penyakit tanaman padi dapat ditekan, karena ikan akan memakan
binatang-binatang kecil hama tersebut, dan
d.
ada
perilaku ikan yang mencari makan dengan membolak-balik tanah, sehingga dapat
memeperbaiki struktur tanah.
3.
Meningkatkan
efisiensi dan produktifitas lahan
4.
Tanaman
padi dapat lebih terkontrol, karena petani lebih sering ke sawah.
5.
Memenuhi
kebutuhan protein hewani
6.
Mengurangi
biaya pengolahan
Biaya
untuk persiapan lahan ikan sudah menjadi satu dengan biaya persiapan lahan
untuk padi, pakan ikan bisa didapat dari pemanfaatan azolla pada tanaman padi.
C. Langkah-Langkah dalam Usaha Minapadi
1.
Budidaya
Ikan Sebagai Penyelang Tanaman Padi
Pemeliharaan ikan sebagai penyelang
dilakukan setelah tanah sawah dikerjakan sambil menunggu penanaman padi.
Lamanya pemeliharaan biasanya 20 – 30 hari, sampai pada saat benih padi siap
untuk ditanam. Pada sistem ini biasanya hanya dilakukan untuk pendederan benih
ikan. Tujuannya adalah setelah umur 20 – 30 hari, hasil dederan berubah menjdai
anak ikan yang siap ditebarkan di kolam.
Menurut Kementerian Kelautan dan
Perikanan (2011), budidaya minapadi dengan penyelang dapat dilakukan sebagai
berikut:
a.
Persiapan
lahan
-
Membabat
jerami sampai pangkalnya dan dibenamkan
-
Perbaikan
pematang untuk mencegah kebocoran air.
-
Saluran
pemasukan dan pengeluaran terletak pada sisi yang berseberangan dilengkapi
dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau saringan.
-
Pengolahan
dan pembalikan tanah menggunkan luku atau retovator (traktor).
-
Pembuatan
careng keliling dengan lebar 40 – 100 cm dan careng penampunga (kobakan panen)
dengan ukuran 1 x 2 m dan kedalaman 50 – 75 cm.
b.
Pemupukan
-
Pemupukan
dengan SP-36 dan urea tahap I sebanyak 6 – 7 gram/m2 dilakukan setelah
persiapan lahan atau 4 – 5 hari sebelum penebaran benih.
-
Pupuk
organik diberiakn setelah petakan digenangi air setinggi 15 cm dengan frekuensi
1 - 2 pekan sekali sebanyak 30 – 100 gram/m2.
c.
Pemeliharaan
-
Benih
ikan yang ditebar sebanyak 30.000 ekor/ha/MT berukuran 1 – 3 cm
-
Pakan
tambahan untuk ikan berupa dedak halus sebanyak 4 % dari bobot total ikan,
dengan frekuensi 3 kali sehari.
-
Ketinggian
air di dalam petakan selama masa pemeliharaan adalah 30 – 40 cm
-
Balikkan
tumpukan jerami 3 (tiga) hari sekali untuk mempercepat proses pembusukan dan
pertumbuhan pakan alami.
-
Suplai
air terus – menerus dengan kecepatan 2 – 4 liter/detik untuk petakan seluas 500
m2.
d.
Pemanenan.
-
Panen
dilakukan 2 – 3 hari sebelum tanam padi.
-
Pengeringan
petakan secara total dan dipasang saringan pada pipa pengeluaran untuk mencegah
lolosnya benih.
-
Setelah
masa pemeliharaan selama 30 hari dihasilkan benih ikan berukuran 3 – 5 cm
sebanyak 21.000 ekor setara dengan 105 kg/ha.
2.
Budidaya
Ikan Bersama Padi
Budidaya ikan bersama padi merupakan
pemeliharaan ikan di sawah yang dilakukan bersama dengan tanaman padi. Lama
pemeliharaan adalah sejak benih padi ditanam sampai penyiangan I, penyiangan II
atau sampai tanaman padi mulai berbunga, kira-kira umur tanaman padi 50 hari.
Sistem budidaya minapasi ini sering disebut sebagai sistem tumpangsari.
Menurut
Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), budidaya minapadi dengan sistem
tumpangsari dapat dilakukan sebagai berikut:
a.
Persiapan
Lahan.
-
Sawah
dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan penanaman padi dan pemeliharaan ikan
-
Tanah
diolah atau dibajak samapai lumpur mencapai 15 – 30 cm, de3ngan perbandingan
lumpur dan air, 1:1
-
Pembuatan
parit/caren untk udang galah berukuran lebar 1 m dengan kedalaman 60 – 75 cm
-
Penanaman
padi
b.
Pemupukan
Padi
Pada pemupukan
dasar, pupuk ditaburkan secara merata pada keadaan sawah masih melumpur. Urea
dan SP-36 tidak dianjurkan untuk dicampurkan pada saat penaburan. Pada
pemupukan susulan, air dalam petakan diusahakan dalam keadaan macak-macak
sebelum penebaran (ikan berada pada kemalir auat diungsikan terlebih dahulu).
Pupuk ditaburkan diantara barisn tanaman atau ditebar secara merata. Benamkan
pupuk dengan landak sambil menyiang atau diinjak-injak khusus agar bisa
terbenam pada kedalaman lebih dari 3 cm.
c.
Penebaran
ikan
Padat penebaran
dan ukuran benih ikan disesuaikan dengan tujuan penanaman penanman, penebaran,
pertama benih berukuran 1 – 3 cm (fingerking) dengan padat penebaran 3 – 5 cm
ekor/m2 dilakukan 3 – 5 cm setelah tanam padi. Jika benih ikan yang
ditebar berukurang kurang dari 5 cm, gunakan panglojo (ikan pembimbing), yang
ukurannya lebih besar (50 -75 gram) sebanyak 200-150 ekor/ha. Karena ikan ini
dapat membolak balikan lumpur sehingga dapat membantu ikan-ikan kecil mencari
makan. Ikan dapat diganti dengan dengan udang galah berukuran 5 – 8
gram/ekorsebanyak 2 ekor/m2. Jadwal tanam ikan pada budidaya minapadi
sesuai dengan ukuran ikan dan lama pemeliharaan.
d.
Pemeliharaan
-
Apabila
pertumbuhan padi tidak normal (anakan kurang) turunkan permukaan air sampai 5
cm selama 2 – 4 hari guna memberi kesempatan padi untuk bertunas.
-
Ikan
perlu diberi pakan tambahan berupa dedak dengan takaran 4 – 5 % dari berat
badan ikan. Untuk pakan udang galah diberikan pekan berupa pellet (protein 30
%) sebnayak 1 % dari berat badan udang/hari dengan frekuensi 3 kali
sehari.
-
Selama
masa pemeliharaan kedalaman air di pelataran 10 – 15 cm dan parit 30 – 40 cm.
-
Pemasukan
dan pengeluaran air dilakukan berdasarkan grafitasi.
-
Lemanya
pemeliharaan ikan tergantung pada ukuran benih dan besarnya iakn yang hendak
dipanen. Lama pemeliharaan benih dari ukuran kebul sampai ukuran belo 15 – 20
hari, dari belo sampai ngaramo 20 – 30 hari, dan dari ngaramo menjadi ikan
konsumsi 40 – 55 hari.
e.
Pemanenan
ikan
-
Pemanenan
ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu udara
rendah.
-
Pengeringan
petakan pada waktu panen harus dilakukan perlahan – lahan agar ikan dapat
mencapai parit.
-
Keluarkan
air pada bagian kemalir agar ikan berkumpul pada kemalir tersebut samai
ketinggian air mencapai 3 – 5 cm.
-
Air
yang terkumpul ditangkap dan ditampung dalam hapa yang ditempatkan pada air
mengalir. Setelah petakan kering, air dapat dialiran kembali agar ikan yang
masih tersisa dalam petakan dapat terselamatkan
-
Setelah
masa pemeliharaan selama 90 hari dihasilkan udang ukuran konsumsi (25 – 35
g/ekor) sebanyak 15.000 – 16.000 ekor setara dengan 450 kg.
BAB III. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas dapat disimpulkkan bahwa usaha minapadi merupakan sistem pertanian yang
menguntungkan petani, selain itu usaha minapadi lebih evektif dan efisien dalam
dalam meningkatkan penghasilan karena petani bisa mendapatkan dua hasil yaitu
padi an ikan.
Usaha pertanian sistem minapadi juga membuktikan adanya
penerapan ilmu biologi dibidang pertanian yaitu
teori simbiosis mutualisme karena adanya interaksi dua makhluk hidup
yang saling menguntungkan yaitu padi dan ikan. Usaha minapadi juga mengurangi
biaya petani dalam mengolah lahan misalnya biaya pupuk, pestisida dan
penyiangan gulma.
B.
Saran
Dari pembahasan
dan kesimpulan diatas saya menyarankan
hal-hal sebagai berikut:
1.
Usaha
mina padi perlu lebih dikebangkan mulai dari penelitian di pergurunan tinggi,
diajukan kepada dinas-dinas terkait dan di promosiakan kepada petani-petani
di masyarakat.
2.
Pertanian
sistem mina padi merupakan sesuatu yang baru bangi masyarakat, oleh karena itu
perlu adanya penyuluhan dan pelatihan agar masyarakat dapat menerapkan sistem
pertanian tersebut.
3.
Pemerintah
sebaiknya menyiapkan srana dan prasarana bagi masyarakat yang ingin mencoba
usaha pertanian sistem mina padi.
DAFTAR PUSTAKA
Damayanti,
Yusma. 2011. Potensi Dan Peluang Pengembangan Sistem Minapadi Sebagai
Upaya Penanganan Dampak Perubahan Iklim Di Provinsi Jambi. Seminar
Nasional Sains Dan Teknologi-IV
Diodenha, Astar.
2001. Persepsi Lingkungan Petani Desa Purwasari, Kec. Dramaga, Kab. Bogor
Terhadap Penerapan Teknologi Intensifikasi Mina Padi (INMIDI). Skripsi.
Institut Pertanian Bogor
Hafsanita,
Shanti Dewi. 2002. Analisis Ekonomi Pola Pemanfaatan Lahan Sawah Untuk
Perikanan Di Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Skripsi.
Institut Pertanian
Kaimuddin., Bachrul
Ibrahim., dan Lina Tangko. 2008. Budidaya padi sawah irigasi dengan
aplikasi azolla dan ikan nila. Jurnal agrivigor 7(3): 242-253
Sasa, Johari J.,
dan O. Syahromi. 2006. Sistem Minapadi dalam Perspektif Produktivitas
Lahan, Pendapatan, dan Lingkungan. Penelitian Pertanian Tanaman
Pangan Vol. 25 No. 2
Tiku, Gilda
vanessa. 2008. Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Sistem
Mina Padi dan Sistem Non Mina Padi (Kasus Desa Tapos I Dan Desa Tapos Ii,
Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Institut
Pertanian Bogor
